Bandung, 28 Agustus 2025 – Indonesian Journal of Halal Research (IJHAR), jurnal ilmiah yang dikelola oleh Pusat Halal di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan kapasitas pengelolaan jurnal ilmiah di Indonesia. Pada kesempatan kali ini, IJHAR diundang dalam kegiatan Webinar Pengelolaan dan Akreditasi Jurnal yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Kegiatan ini diikuti oleh para pengelola jurnal/ editor dari berbagai fakultas dan unit di lingkungan ITS. Tujuan utama dari webinar ini adalah memberikan wawasan dan strategi praktis untuk memenuhi standar akreditasi nasional (Arjuna dan SINTA) sekaligus mempersiapkan jurnal menuju indeksasi bereputasi internasional seperti DOAJ, Scopus, dan Web of Science.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Tri Cahyanto, M.Si., selaku Editor in Chief IJHAR, sebagai narasumber memberikan materi bertajuk “Pengelolaan Jurnal Bereputasi dalam memenuhi standar Akreditasi Nasional dan Indeksasi Internasional.” Dalam paparannya, Dr. Tri Cahyanto menyampaikan bahwa pengelolaan jurnal bukan hanya sebuah proses teknis, melainkan sebuah ekosistem yang memerlukan konsistensi, dedikasi, dan strategi berkelanjutan.
Beliau menekankan bahwa jurnal bereputasi memiliki ciri utama: kualitas naskah yang tinggi, proses editorial yang transparan, kepatuhan terhadap standar etika publikasi internasional (COPE), serta komitmen untuk menjaga konsistensi penerbitan. “Jurnal bereputasi bukan hanya sekadar meraih indeksasi, melainkan tentang membangun kepercayaan akademik dan memberikan kontribusi nyata pada perkembangan ilmu pengetahuan,” ungkapnya.
Acara dimoderatori oleh Ibu Shintami Chusnul Hidayati, Ph.D., selaku Subdirektorat Data dan Layanan Ilmiah, Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS. Dalam diskusi, Dr. Tri Cahyanto juga menyoroti perbedaan fokus antara akreditasi nasional dan indeksasi internasional. Jika akreditasi nasional lebih menitikberatkan pada kelengkapan administrasi, kepatuhan standar Arjuna, dan konsistensi terbitan, maka indeksasi internasional menekankan pada visibilitas global, keberagaman penulis, kualitas metodologi penelitian, serta dampak sitasi. Beliau mendorong agar pengelola jurnal mulai memikirkan strategi internasionalisasi, misalnya dengan merekrut reviewer dan editor dari luar negeri, membuat special issue tematik yang relevan secara global, dan mengoptimalkan promosi artikel di platform digital serta media sosial akademik.
Lebih lanjut, beliau menyarankan bahwa setiap jurnal perlu memiliki roadmap pengembangan 3–5 tahun sebagai panduan dalam meningkatkan kualitas. Roadmap ini mencakup target capaian, strategi peningkatan mutu artikel, penguatan jejaring, serta langkah-langkah menuju indeksasi internasional. “Tanpa roadmap yang jelas, pengelolaan jurnal akan cenderung reaktif dan sulit mencapai standar bereputasi,” tegasnya.
Para peserta webinar yang berasal dari berbagai pengelola jurnal ITS menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka banyak mengajukan pertanyaan seputar praktik terbaik dalam menjaga kualitas artikel, teknis penggunaan OJS untuk mempermudah manajemen editorial, hingga strategi menghadapi keterbatasan sumber daya manusia. Narasumber memberikan berbagai solusi praktis, termasuk pentingnya memanfaatkan teknologi pendukung, membangun kolaborasi antarjurnal, dan memastikan transparansi proses review.
Partisipasi IJHAR dalam kegiatan ini mencerminkan komitmen untuk berbagi pengalaman dan praktik baik dalam pengelolaan jurnal bereputasi. IJHAR sendiri telah menempuh berbagai langkah strategis, mulai dari menjaga konsistensi penerbitan, memperluas jaringan reviewer internasional, hingga terindeks di indeksasi bereputasi Internasional, Scopus.
Melalui keterlibatan aktif dalam webinar ini, IJHAR berharap dapat terus berkontribusi dalam membangun ekosistem publikasi ilmiah yang sehat, transparan, dan bereputasi. Dengan demikian, jurnal-jurnal di Indonesia, khususnya di lingkungan ITS, dapat semakin siap untuk bersaing di kancah internasional, sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam diseminasi ilmu pengetahuan bagi masyarakat luas.

